BELAWAN – Upaya pemberantasan narkoba jalur laut kembali membuahkan hasil besar. Aparat gabungan berhasil menggagalkan penyelundupan 1,16 ton ketamin yang diangkut kapal tanker MT Global 168 di perairan Sumatera Utara. (23/10/2026)
Capaian tersebut dipaparkan langsung Kapolri Jenderal Polisi Dr. (H.C.) Suyudi Ario Seto, S.I.K., S.H., M.Si., dalam konferensi pers di Terminal Penumpang Bandar Deli, Pelabuhan Belawan, Medan, Jumat (23/10/2026). Barang bukti yang disita ditaksir memiliki nilai peredaran gelap hingga Rp3,48 triliun.
Pengungkapan ini menjadi penegasan pentingnya pengawasan perairan Indonesia yang rawan dimanfaatkan jaringan lintas negara.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hasil Koordinasi Lintas Lembaga
Keberhasilan mengamankan MT Global 168 tidak lepas dari kerja kolektif sejumlah instansi. Operasi gabungan tersebut melibatkan Dittipidnarkoba Bareskrim Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN) RI, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Ditpolair Korpolairud Baharkam Polri, serta unsur Pusat Polisi Militer TNI.
Sinergi itu menunjukkan bahwa penindakan penyelundupan di laut membutuhkan pertukaran informasi yang cepat, pemantauan pergerakan kapal yang akurat, dan eksekusi penindakan yang terkoordinasi.
Selat Malaka dan jalur di sekitarnya merupakan urat nadi perdagangan internasional. Posisi strategis itu di satu sisi menguntungkan, di sisi lain menuntut kewaspadaan ekstra karena berpotensi disalahgunakan untuk aktivitas ilegal.
Bermula dari Anomali AIS
Berdasarkan paparan di lapangan, MT Global 168 berbendera Mongolia. Kapal berangkat dari kawasan Pasir Gudang, Malaysia, melintasi Selat Malaka menuju Laut Andaman. Aparat mencurigai adanya praktik ship to ship atau pemindahan muatan antar kapal di tengah pelayaran.
Petunjuk awal muncul dari kejanggalan pada Automatic Identification System (AIS) atau sistem identifikasi otomatis kapal. Anomali tersebut kemudian didalami melalui pemantauan intensif.
Rangkaian pemantauan dilakukan sejak 14 Oktober 2026. Setelah mengantongi data yang cukup, aparat menyiapkan langkah pencegatan. Kapal akhirnya diamankan di perairan sekitar Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara, dan dibawa dengan pengawalan ketat menuju Pelabuhan Belawan.
Pada Rabu (21/10/2026), MT Global 168 telah sandar di Belawan bersama muatan yang menjadi objek pemeriksaan.
1.160 Kg di Ruang Pompa Kapal
Temuan paling menonjol adalah besarnya barang bukti. Petugas menemukan 1.160 kilogram atau 1,16 ton ketamin.
Menurut Kapolri, ketamin tersebut disimpan dalam 58 karung. Informasi operasi yang dihimpun redaksi menyebut karung-karung itu berada di ruang pompa atau pump room kapal. Muatan dikemas dalam 1.160 bungkus dengan berat sekitar satu kilogram per bungkus.
Selain narkotika, penyidik juga mengamankan kapal berikut perlengkapan yang terkait dengan penyelidikan. Nilai barang bukti yang fantastis menimbulkan pertanyaan besar mengenai siapa yang membiayai, mengatur transportasi, dan merencanakan distribusinya.
Sebab itu, pengamanan barang bukti baru langkah awal. Penelusuran terhadap aktor intelektual, sumber dana, hingga pengendali pengiriman menjadi kunci untuk membongkar dugaan jaringan terorganisir di baliknya.
Dalami Peran 8 Awak Kapal
Dalam operasi tersebut, delapan orang yang berada di kapal turut diamankan. Rinciannya, tujuh Warga Negara Indonesia (WNI) dan satu Warga Negara Asing (WNA) asal Taiwan.
Penyidik masih mendalami peran masing-masing, baik terkait aktivitas pelayaran maupun dugaan keterkaitan dengan pengiriman ketamin.
Informasi awal yang diterima redaksi menyebut ada WNA yang diduga memiliki peran penting dalam pengelolaan kapal. Namun status hukum dan pertanggungjawaban pidana setiap individu tetap merujuk pada dokumen resmi dan hasil pemeriksaan penyidik.
Sejumlah aspek krusial masih perlu ditelusuri, mulai dari asal muatan, pemberi perintah, tujuan akhir pengiriman, hingga kemungkinan keterlibatan jaringan internasional. Proses hukum terhadap para pihak yang diamankan tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah dan berbasis alat bukti yang sah.
Pesan dari Belawan
Pengungkapan di Terminal Penumpang Bandar Deli ini memberikan pesan bahwa keamanan perairan tidak hanya soal patroli fisik. Diperlukan penguatan intelijen, pertukaran data antar lembaga, dan kemampuan membaca pola pelayaran yang tidak wajar.
Capaian penindakan ini diharapkan tidak berhenti pada penyitaan kapal dan muatan. Pengembangan perkara menjadi penting agar pengungkapan benar-benar tuntas.
Kasus MT Global 168 menjadi pengingat bahwa penyelundupan skala besar melibatkan perencanaan matang, dukungan finansial, dan pergerakan lintas negara. Karena itu, penyidikan lanjutan menjadi penentu agar seluruh pihak yang terbukti terlibat dapat dimintai pertanggungjawaban hukum.
Di sisi lain, transparansi dalam penanganan barang bukti, perkembangan penyidikan, serta status hukum para pihak diperlukan untuk menjaga kepercayaan publik. Keberhasilan penegakan hukum tidak hanya diukur dari besarnya sitaan, tetapi juga dari kemampuan mengungkap jaringan secara menyeluruh, profesional, dan akuntabel.
Dari Pelabuhan Belawan, operasi gabungan ini menegaskan kehadiran negara dalam menjaga perairan Indonesia dan mencegah penyalahgunaan jalur perdagangan internasional untuk kejahatan. Pengungkapan 1,16 ton ketamin menjadi capaian penting. Publik kini menanti kelanjutan penyidikan untuk mengungkap secara utuh pihak-pihak yang bertanggung jawab.
(TEAM)













Komentar